Mungkin Ayu akhirnya menyadari cinta zooplankton-nya terlalu suci buat Hiu yang galak dan ganas. Tahukah kalian? Meski zooplankton itu tergolong hewan, mereka tidak pernah memangsa mahkluk hidup lainnya. Merekalah satu-satunya hewan di dunia yang tidak membunuh mahkluk lain untuk urusan isi perut, bahkan rumput laut pun tidak. Zooplankton sempurna makan dari hasil fotosintesis matahari. Kemudian memasrahkan diri dimakan oleh ikan-ikan kecil. Zooplankton selalu setia sampai kapan pun menjadi rantai terbawa dalam piramida makanan. Lantas aku apa? Cillean Filleta? Mahkluk yang tidak memerlukan pasangan untuk be-reproduksi selama hidupnya? Mahkluk yang ditakdirkan jomblo sepanjang usianya?
Tetapi dalam urusan cinta ini, tidak seharusnya Ayu menjadi zooplankton-nya Topan. Teman dekatku itu terlalu baik untuk Topan, sang Hiu. Terlalu polos memandang sebuah cinta. Selalu menerima apa-adanya. Ayu sejak dulu selalu meyakini dan berharap cinta yang ia miliki cukup untuk memperbaiki banyak hal, merubah banyak tabiat buruk. Padahal, cinta zooplankton Ayu sama sekali tidak cukup untuk Topan, sang penguasa rantai makanan.
"Hingga suatu malam, di tengah senyapnya gelap, sang anak mengangkat kedua tangannya, tengadah ke langit buram, “Ya Tuhan, kurus-kan-lah aku. Aku mohon….” Anak itu menangis tersedu, bersimpuh penuh harap, “Atau kalau Kau tidak berkenan membuatku kurus, maka buatlah gendut seluruh teman-temanku…. Aku mohon! Biar kami sama…. Biar kami sama….”
Maka malam itu, sempurna sudah langit terbolak-balik. Do’a itu bagai melempar sebutir dadu dengan seluruh enam sisinya sempurna bertuliskan kata: Amin!
"Apakah cinta sejati itu? Istriku pergi hanya karena ia lelah dengan kehidupan kecil kota kami. Menemukan pemuda yang menjanjikan masa depan lebih baik. Pasangan-pasangan lain hari ini juga berpisah karena alasan-alasan sepele. Bosan. Merasa terkekang. Merasa pasangannya sudah berubah. Atau bahkan hanya karena alasan-alasan yang dicari. Apakah itu cinta kalau kau setiap saat bisa jatuh cinta lagi dengan gadis lain? Dengan pemuda lain?
Esok-lusa, alasan mereka berpisah akan semakin sepele. Bahkan mungkin mereka tidak perlu alasan lagi untuk berpisah. Padahal percayakah kalian, seminggu setelah berpisah dengan pasangan lamanya, mereka akan menemukan pasangan baru. Buncah dengan kata: “Kaulah cintaku!” “Aku belum pernah merasakan cinta sehebat ini.” Dan berpuluh-puluh kalimat dusta lainnya. Terus saja begitu. Seperti siklus yang berulang. Apakah cinta itu? Mungkin hanya istri Fram, si petani miskin yang bisa menjawabnya.
Kau ingin mendengar penjelasan yang sesungguhnya di malam saat Fram sekarat, Cindanita-ku? Kau ingin tahu? Baiklah, akan aku bisikkan, semoga setelah itu sama sepertiku dulu kau akan tetap mempercayai adanya cinta, meski bisa jadi kau dalam posisi yang tersakiti, anakku.
"Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia akan pergi karena materi.
Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi, karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk."
- Oh, masih banyak kerjaan, kamu? (dia ngajak aku bicara Tuhaaaaaaaaan)
+ Gag ada temen hehe (kamu bego banget kalo egag peka)
- Oh, si Desi kayaknya mau makan juga tuh (Kata-kata macam apa yang aku ucapkan? Itu kode azhar, sigh)
+ Oh, oke (well, terima kasih untuk ketidakpekaannya)
- Yap (kapan lagi kesempatan ini datang, sigh)"



